Oleh: fatkhurrohim | Februari 19, 2008

Furniture

Interview : Ambar (Polah) Tjahyono, Ketua Asosiasi Meubel Indonesia (Asmindo)

“Segudang Pekerjaan Rumah di Asmindo”

Jika Asmindo diibaratkan sebuah rumah, Asmindo, ingin mempercantik interior rumahnya dengan benda-benda baru yang memiliki kualitas, desain dan layout yang bagus dan didalamnya. Ternyata untuk mepercantik, seperti yang diingini tidak lah mudah terwujud dalam sekejab. Itulah yang terjadi pada Asosiasi ini, begitu banyak Pekerjaan Rumah (PR), yang musti dibenahi, guna mewujudkan sebuah industri meubel yang bermartabat secara pangsa pasar, kualitas, dan desain di pasar dunia.

Untuk mengetahui sejauhmana kiprah Asmindo dalam membangun image furniture Indonesia di pangsa pasar dunia dan lokal, berikut ini adalah hasil wawancara dengan tokoh meubel indonesia yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Asmindo, Ambar Tjahyono, atau dikalangan pelaku industri furniture biasa disapa dengan Ambar Polah.

Sejak kapan Anda mengemban jabatan sebagai ketua Asmindo?

Saya menjabat Asmindo baru satu tahun, untuk masa periode lima tahun masa jabatan yang akan saya lakoni. Dan, Saya ini merupakan produk dari Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Asmindo di Bali.

Apa yang menyebabkan Anda bisa Terpilih?

Begini, ketika saya terpilih, mereka (kandidat lain) memang sempat kuatir. Jangan-jangan Asmindo di bawah kendali saya, hanya akan berpikir kebawah (sekalaUKM) saja, sedangkan kalagan atas (skala ekspor) tidak tersentuh. Sekarang akan saya buktikan, bahwa saya berpikir dari yang atas hingga ke bawah.

Apa buktinya?

Buktinya nilai ekspor meningkat. Dari data ekspor sekarang per september 2006-2007 ekspor furniture Indonesia menigkat antara 10-13 persen atau mendekati US$ 2,1 Milyar, kerajinannya US$ 500 juta, belum lagi yang tidak terdata seperti di pasar lokal, yang saya yakin ada sekitar US$ 1 juta.

Kenapa pasar lokal tidak bisa terdeteksi?

Karena, proses transaksinya masih tradisional, hanya kirim antar pulau saja. Misal konsumen dari Lampung memesan meubel dari jepara kemudian Jepara mengirimnya. Jadi belum ada data yang cukup untuk mengakses hal tersebut. Berbeda dengan ekspor, yang datanya selalu ada, seperti negara tujuan, dan jumlah nya yang jelas.

Apa ini berarti pasar lokal tidak digarap secara serius?

Jelas tidak. Justru Asmindo mendorong pasar lokal, agar tidak dimasuki oleh furniture dari negara Cina. Padahal kalau dilihat, produk cina itu tidak menggunakan bahan baku kayu total, mereka menggunakan bahan baku gypsum kemudian mereka pres, lantas di warnai seolah-olah menyerupai kayu.

Langkah apa yang akan Anda terapkan dalam meraih pasar lokal?

Asmindo dalam hal ini ingin menggarap proyek instansi atau departemen-depaertemen pemerintahan, melalui koperasi karyawannya dengan sistem kredit. Akan tetapi harus ada lembaga keuangan yang mengurusi pembayaran secara tunai. Karena Asmindo itu kan asosiasi berskala UKM yang butuh dana tunai. Sehingga untuk urusan leasing bisa dileimpahkan kepada lembaga keuangan tersebut. Dengan demikian, data transaksi pasar lokal dapat dilacak dengan mudah.

Kembali ke ekspor, faktor apa yang menyebabkan nilai ekspor naik?

Karena Asmindo bekerja tidak sendiri. Dalam hal ini, Asmindo menggandeng beberapa Non Goverment Organization (NGO) tingkat dunia seperti World Wildlife Fund (wwf), Indonesian and Competitiveness Programe (senada) yang selalu mengkampanyekan penghijauan hutan. Sehingga dunia dapat menilai bahwa Asmindo pun peduli akan program ini.

Mengapa menggandeng mereka?

Begini, Dulu Indonesia dikenal sebagai negara perusak hutan. Sedangkan furniture salah satu bahan bakunya adalah dan rotan. Jadi ada stigma, bahwa furniture Indonesia bahan bakunya adalah ilegal logging. Padahal Asmindo sendiri sangat anti sama illegal logging. Justru asmindo mengkampanyekan green forest. Dan perlu ditekankan, bahwa Asmindo memakai memakai bahan baku hutan rakyat, bukan hutan alam. Ini berbeda!!!

Dimana letak perbedaanya?

Kalau hutan rakyat memang sengaja ditanam sendiri, sedangkan hutan alam, berasal dari hutan. Hal ini dibuktikan oleh Asmindo dengan adanya sertiviakasi hutan rakyat di Wonosari, Wonogiri, Bantar Bolang (Pemalang) seluas 17 hektare, dan Jati Unggulan Nasional (JUN) seluas 20 hektare di Jember.

Apa ini juga bukti dari Green Forest yang ditabuhkan oleh Asmindo?

Betul. Dan sekaligus untuk membangun image, bahwa produk furniture Indonesia bahan bakunya legal. Bukan seperti yang mereka tuduhkan. Oleh karena itu, kenapa Asmindo menggandeng para NGO tingkat dunia. Sebab kalau yang berbicara hanya Asmindo saja, itu kurang mewakili di pangsa pasar furniture dunia.

Bagaimana Asmindo membangun Link Global Market?

Saya ajak berbicara semua asosiasi meubel di seluruh dunia. Langkah awal yang saya ajak bicara tentu di tingkat asia yang namanya Asean Word Furniture. Asean Wood Furniture ini kan lembaga sertifikasi furniture tingkat Asia. Kalau sertifikasi yang mengeluarkan Asmindo akan lemah ditingkat pasar dunia.

Pangsa pasar meubel dunia mana yang dalam waktu dekat akan dikerjakan?

Cina, Midle East (Timur tengah) dan Eropa Timur.

Kenapa Negara-negara Tersebut?

Cina saat ini ekonominya sedang bergerak, dan harga furniture disana sedang mahal. Karena subsidinya sedang di tarik untuk memgembangkan Cina utara. Saya berupaya menargetkan sekitar 5% dari 7% target ekspor dari pemerintah. Midle East, belum tergarap dengan maksimal. Masalahnya di midle Eastdaya tawarnya rendah. Untuk mengatasi hal ini, Asmindo akan membuat strategi bagaimana orang timur tengah memakai furniture Indonesia itu memiliki tingkat prestis yang tinggi dan menjadi bagian dari life style disana. Caranya, pada saat mengikuti pameran furniture disana, Asmindo tidak berjualan. Akan tetapi akan mendisplay produk dengan lay out interior yang mencitrakan bahwa furniture Indonesia memiliki prestise yang tinggi dan bisa menjadi gaya hidup.

Bagaimana caranya untuk mendukung program ekspor tersebut?

Caranya ya kompleks, harus melibatkan dan peran aktif pemerintah, pelaku perbankan dan pelaku industri furnitur. Sebab ini tidak bisa berjalan sendiri. Furniture Indonesia tidak akan bisa maju di luar negeri tanpa peran aktif dan dukungan para atase, duta besar, perindustrian dan perdagangan dan badan pengembangan ekspor nasional. Ini harus dikembangkan. Dan menjadi tugas bersama antara Asmindo, pemerintah, perbankan dan pelaku industri furniture itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: