Oleh: fatkhurrohim | April 12, 2008

Be Come a Profesional MICE Organizer

Perkembangan industri Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE), di Indonesia sudah menunjukan arah peningkatan, meski tumbuh secara perlahan. Lambatnya laju pertumbuhan di industri mice ini tidak lain adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) baik secara kuantitas maupun profesionalismenya.

Untuk mengakomodasi hal ini, PT. Indo Kreatif Mishatama mengadakan workshop nasional, dengan tajuk Be Come a Profesional MICE Organizer, pada tanggal 27-28 Februari 2008, di Hotel Kartika Chandra. Acara ini, diharapkan nantinya 20 orang yang menjadi peserta workshop dapat menjadi Sumber Daya Manusia yang Professional dalam menekuni bidang MICE baik yang terjun di Profesional Exhibition Organizer (PEO), maupun Profesional Conference Organizer (PEO). Kemudian dapat memberikan pengetahuan dan pembelajaran mengenai konsep dasar dan tehnik dalam mengelola event MICE baik yang bertaraf nasional maupun internasional.

Workshop ini sangat bermanfaat, sebab dapat menghadirkan para praktisi seperti Surya Dharma dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Eko Prabowo, dari ASPERAPI, Herman Widiapoera praktisi Exhibition Organizer bertaraf Internasional, Ida Bagus Lolec Surakusuma dari industri travel, Andi Soehendro mewakili Venue Owner, Agus Iswahyudi mewakili stand contractor, Adeviyanti mewakili pacto convex dan praktisi pendidikan Christina L, Rudatin dari D-4 MICE P.N.J.

Sehari menjelang diadakannya workshop, Ivan Haeqal, selaku direktur PT. Indo Kreatif Mishatama mengutarakan, workshop ini merupakan langkah kedua setelah sukses menggarap acara seminar mengenai Be Come a Profesional Mice Event Organizer pada tahun 2007.

Memang harus diakui, dari segi sumber daya manusia (SDM), Indonesia harus terus berbenah pada industri ini. Pada peserta workshop, Surya Dharma mengatakan, bahwa Industri mice Indonesia masih banyak kelemahan dan kekuranganya. Beberapa hal tersebut, surya mencontohkan mengenai lemahnya profesionalitas SDM baik dari segi kualitas dan kuantitas, aksesbilitas kurang optimal, serta untuk sosialisasi mengenai peranan mice pun masih kurang, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Kurangnya sosialisasi tentang industri mice pun diamini oleh beberapa peserta workshop ini. Beberapa daerah seperti Semarang, Kalimantan dan Sulawesi memang tidak paham betul akan istilah mice yang telah menjadi sebuah industri ini. Sayangnya, para peserta dari daerah tidak ada yang menanyakan mengenai kriteria seperti apa saja suatu provinsi yang masuk dalam ranah destinasi mice. Mereka hanya mengetahui bahwasannya mice merupakan bagian dari paket pariwisata. “Kalau mice merupakan bagian dari pilar pariwisata, provinsi kami memiliki potensi wisata yang bagus. Kami memiliki segitiga karang yang tidak dapat ditemukan pada provinsi lain,” ujar peserta workshop dari Sulawesi Tengah.

Jika ditilik lebih lanjut, nilai ekonomis dari wisata mice ini sebenarnya dapat meningkat 2 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan wisata konvensional. “Singapore Tourism Board menunjukan data, bahwa nilai ekonomis wisata mice dua kali lebih besar dari sektor wisata konvensional,” terang, Surya Dharma. Pada saat presentasi di depan peserta workshop, Surya Dharma mencontohkan ada beberapa pasar potensial yang menjadi bagian dari industri mice, misalnya, pertemuan, atau meeting dari NGO-NGO (Non Government Organization). Kemudian, spartai politik, perusahaan-perusahaan multinasional pun dianggapnya sebagai pasar potensial.

Hal senada pun di ungkap oleh Herman Wiriadipoera, praktisi sekaligus CEO pameran bertaraf Internasional Napindo Media Ashatama. “Mice itu industri yang besar, dan dapat mendatangkan nilai devisa yang besar pula bagi Negara. Namun dalam hal ini, mice belum tergarap secara maksimal,” sebut Herman. Herman kembali menambahkan, untuk mengadakan event bertaraf internasional saja, sudah mengundang devisa bagi Negara yang didapat dari sektor transportasi, hotel, hiburan, dan souvenir.

Namun sangat disayangkan kembali, venue-venue besar ditiap daerah akan tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kemudian pemerintah dalam hal ini kurang berperan aktif dalam hal edukasi, dan terkesan berjalan sendiri-sendiri dan tumpang tindih. Seperti diketahui, industri mice di Indonesia dipegang oleh dua departemen yang berbeda, yakni departemen perdagangan dan departemen pariwisata. Eko Prabowo wakil sekjen Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI) memaparkan pada peserta workshop, untuk mengadakan ijin seperti Meeting, Incentive, Convention harus melalui Departemen kebudayaan dan pariwisata. Kemudian untuk exhibition harus melalui Departemen Perdagangan.

Andai saja pemerintah dapat mengkap sinyalemen industri ini dengan baik, kemudian suasta selaku pelaksana industri dapat berjalan seiring, bukan tidak mungkin pertumbuhan mice Indonesia akan setaraf dengan negara Singapura. Paling tidak, pada tahun 2008, industri mice Indonesia akan meningkat menjadi 10-15 persen dari target pertumbuhan 3 persen pada tahun 2007 seperti yang ditetapkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. (Fatkhurrohim)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: