Oleh: fatkhurrohim | April 12, 2008

Exhibition: AseanWood Furnitechno 2007

Isu Lingkungan dalam Industri Mesin Pengolah Kayu

dsc_0040.jpgTAMPAKNYA isu-isu going green dan global warming tak hanya merambah wilayah-wilayah yang dianggap identik dengan masalah ekologi, seperti polusi atau penggundulan hutan. Sektor industri mesin pengolah kayu pun ternyata juga berkepentingan dengan isu-isu tersebut. Inilah yang tak luput dari pemikiran para insinyur teknologi mesin pengolah kayu dunia. Jerman, misalnya, adalah salah satu negara produsen mesin pengolah kayu yang paling aktif meng-upgrade teknologinya untuk mendukung isu di atas.

Ingo Bette, salah satu perwakilan Asosiasi Produsen Mesin Pengolah Kayu Jerman atau German Woodworking Machinery Manufacturers Association (VDMA) di Frankfurt, yang hadir dalam konferensi pers AseanWood Furnitechno, 20-23 Nopember 2007, di Jakarta International Expo, Kemayoran, mengatakan bahwa Jerman adalah negara penghasil teknologi pengolah kayu terkuat dan terbesar di dunia. Di Jerman, isu-isu lingkungan selalu mendapatkan perhatian.

Oleh karena itulah, Leonard Theo Sabrata, ketua AseanWood Furnitechno 2007, mengungkapkan bahwa pameran kali ini pun mengangkat tema ekologi lingkungan atau eco consist, kendati tidak dipublikasikan secara umum. Diangkatnya tema ini merupakan sikap responsif atas isu seperti going green dan global warming yang terus menjadi buah bibir di seluruh dunia.

Dalam hal ini, yang membedakannya dengan bentuk-bentuk kampanye lingkungan lainnya adalah dari segi penyampaian. Penggunaan aplikasi teknologi yang tepat, misalnya kemampuan mengukur tingkat efisiensi pengolahan bahan baku, sudah dapat menjadi indikator tanggung jawab teknologi terhadap pelestarian ekosistem. Teknologi mesin pengolah kayu saat ini memang sudah mengadopsi kemampuan teknologi seperti itu. Teknologi yang baik, canggih dan presisi tentu akan menghasilkan produk-produk yang tidak mubazir. Hutan yang menghasilkan kayu, dengan demikian, tidak mengalami defisit dalam tiap tahunya.

Ir. Beny Wahyudi, Direktur Jenderal Perindustrian RI, berpendapat bahwa exhibition yang digelar tiga tahun sekali ini sangat penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen furniture terbesar dunia dengan nilai ekspor sebesar 3,9 persen dari total 40 persen ekspor non-migas.

“Exhibition ini sangat baik untuk mengakses teknologi yang lebih maju, baik teknologi proses maupun finishing. Diharapkan teknologi yang disajikan kali ini dapat meningkatkan industri kayu dari segi kualtias desain dan finisihing kayu, yang menjadi faktor utama dalam persaingan di pasar dunia,” ujarnya.

Dari segi mesin dan tingkat presisi yang ada, saat ini teknologi mesin pengolah kayu sudah hampir sebanding dengan presisi mesin yang dimiliki industri baja. Tingkat perbandingan presisinya saat ini mencapai 1/10. Ini menandakan bahwa sektor mesin pengolah kayu mengalami kemajuan di bidang teknologinya. Selain itu, saat ini mesin industri kayu sedang merintis teknologi baru, yakni upaya merekayasa pengawetan kayu dan reinforcement. Teknologi baru ini dapat merekayasa pengawetan kayu dari kayu lembek menjadi kayu kuat.

Sayangnya, catatan positif tentang kemajuan teknologi itu tak sebanding dengan kesuksesan AseanWood Furnitechno yang kedua ini. Leonard mengakui, secara teknologi memang mengalami perkembangan, tapi tidak demikian dengan para exhibitornya. Jumlah exhibitor mengalami penurunan. Menurunnya partisipasi para exhibitor ini tidak lepas dari ulah para pembalak kayu, lemahnya industri pendukung dan tutupnya beberapa pelaku industri sejenis. Dampaknya, grafik pameran ini terkesan tak bergerak alias stagnan.

Namun, di tengah kondisi saat ini, untuk bisa bertahan saja sudah merupakan prestasi tersendiri. Buktinya, sebanyak 170 exhibitor, yang terdiri dari induk dan anak perusahaan dari delapan negara, turut andil dalam pameran ini. Di mata internasional, Indonesia tetap merupakan pangsa pasar potensial untuk wood working industry.

Ketua Indonesia Furniture Club, Yos S. Theosabrata, mengungkapkan bahwa sebenarnya agak rancu jika membicarakan industri mesin pengolah kayu dalam konteks Indonesia, karena selama ini Indonesia merupakan produsen furniture. Infrastruktur Indonesia, menurut Yos, tidak mendukung untuk itu. Jermanlah yang menjadi barometer teknologi mesin kayu dan eksportir mesin terbesar ke Indonesia.

Sementara itu Ingo Bette menyarankan agar masyarakat Indonesia senantiasa mengikuti dan mengadopsi perkembangan teknologi dalam bidang ini jika tidak ingin tertingal dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam yang telah memanfaatkan teknologi yang lebih maju. FATKHURROHIM


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: