Oleh: fatkhurrohim | April 12, 2008

Exhibition: Indonesia Furniture and Craft Fair Indonesia

Dari Isu Pembalakan Liar hingga Diversifikasi Pasar
BERBAGAI langkah untuk mewujudkan dunia yang hijau tidak hanya diupayakan oleh banyak negara maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Dunia industri—misalnya yang terkait dengan pengolahan hasil budidaya hutan—juga turut berperan untuk mencapai tujuan serupa. Salah satunya adalah industri furniture.

Menangkis isu pembalakan liar

booth-eksklusiv-produk-unddulan_8.jpgIndustri ini, yang keberlangsungannya amat tergantung dengan sumberdaya hutan, selalu mendapat sorotan tajam dari para aktivis lingkungan di seluruh dunia. Padahal, industri furniture Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di dunia, sedangkan Indonesia adalah salah satu negara yang menguasai hutan tropis terbesar di dunia. Tak heran jika furniture Indonesia menjadi salah satu target pengawasan dan bahkan kecurigaan, bahwa bahan baku furniture Indonesia merupakan hasil dari pembalakan liar atas sumberdaya hutan.

Berangkat dari situasi itulah, industri furniture Indonesia berupaya mengampanyekan isu green forest untuk menampik stigma negatif atas bahan baku furniture Indonesia yang dianggap illegal oleh pasar dunia. Stigma tersebut, menurut ketua Asosiasi Meubel Indonesia (Asmindo), Ambar Tjahjono, berdampak amat negatif terhadap sentimen pasar dunia. Padahal, menurut Ambar, seluruh anggota Asmindo menggunakan bahan baku legal.

Menariknya, kendati muncul persepsi negatif terhadap produk furniture Indonesia, grafik ekspor furniture Indonesia per September 2006-2007 tetap menanjak dengan kisaran 10 hingga 13,5 persen atau setara dengan US$ 1,5 miliar. Naiknya volume ekspor ini tidak lepas dari upaya keras untuk menciptakan citra positif bahwa furniture Indonesia menggunakan bahan baku legal, dan bahwa para pelaku industri ini peduli terhadap pelestarian hutan. “Kita berusaha menegaskan pada dunia, melalui NGO-NGO atau LSM yang berbicara tentang penghijauan, bahwa furniture Indonesia itu legal,” ungkap Ambar Tjahjono.

Pasar ekspor baru

Kinerja ekspor yang menjanjikan itu merupakan titik-tolak untuk menjelajahi peta ekspor baru, misalnya di kawasan Timur-Tengah, China dan Eropa Timur. Saat ini, ekspor furniture Indonesia menyasar pasar Amerika dan Jepang. Di kalangan eksportir furniture, Amerika dan Jepang tergolong pasar ekspor tradisional. Dibidiknya kawasan Timur-Tengah, China dan Eropa Timur itu tidak lepas dari isu resesi ekonomi yang melanda Amerika dan, sebaliknya, memanfaatkan pertumbuhan ekonomi di China dan Timur-Tengah.

Dalam konferensi pers Indonesia Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) yang berlangsung tanggal 7-11 Maret ini di JIExpo, Ketua Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Bacrul Khoiri, mengungkapkan bahwa pasar utama furniture Indonesia memang Amerika. Namun saat ini pasar Amerika sedang lesu akibat krisis subprime mortgage dalam bidang kredit perumahan. “Ini jelas artinya, di Amerika pertumbuhannya untuk sementara akan stagnan. Tidak ada jalan lain kita harus melakukan diversifikasi pasar,” kata Bachrul. Bahkan, menurut Ambar, situasi ini juga terasa di pasar Jepang. Lemahnya ekspor furniture ke Jepang disebabkan oleh tingkat daya beli dan ekonomi Jepang yang melorot.

Diakui oleh Ambar, pangsa pasar Timur-Tengah belum digarap maksimal. Penyebabnya, harga dan daya tawar pasar Timur-Tengah sangat rendah. Karena itu, Ambar yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) untuk wilayah Timur-Tengah, akan berusaha mengubah paradigma pasar di sana. Menurut Ambar, caranya adalah dengan mengangkat citra furniture Indonesia. Yakni, tidak semata-mata sebagai perabot fungsional melainkan juga sebagai komoditas yang memiliki prestise dan mendukung lifestyle.

Ambar melihat peluang furniture Indonesia untuk bermain di Timur-Tengah masih sangat besar. Misalnya di Dubai yang ekonominya sedang menanjak. Buktinya, pembangunan di sektor apartemen dan kondominium amat bergairah. “Ini peluang yang harus ditangkap. Kita akan berusaha mengadakan business meeting dengan mereka, dengan bantuan kedutaan yang ada di sana,” tambahnya.

Selain itu, China pun memiliki potensi sebagai ladang ekspor furniture Indonesia. Dengan ditariknya kebijakan subsidi di sektor furniture dan upah buruh yang kian tinggi, harga furniture di China semakin mahal. Ini kesempatan bagi eksportir furniture Indonesia untuk menguasai pasar China, sebelum dikuasai negara lain. “Furniture dari Indonesia berupaya memasang target sekitar 5% dari 7% target ekspor kita di sana. Target ini bisa dipenuhi dari pasar China seperti Shenzhen, Shanghai dan Beijing,” jelas Ambar. FATKHURROHIM


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: