Oleh: fatkhurrohim | April 12, 2008

Festival Cap Go Meh 2008:

Arena Akulturasi Budaya Tionghoa-Indonesia

IMLEK adalah momen yang setiap tahun dinantikan dan dirayakan oleh masyarakat Tionghoa seluruh dunia. Dalam puncak acara perayaan tahun baru ini, terdapat sebuah momen yang biasanya dirayakan dengan sangat meriah, yakni Cap Go Meh.

Untuk menyambut datangnya tahun Tikus Api ke-2559 kali ini, PT Jakarta International Expo pun tak mau melewatkan momen dan akan memperingatinya dengan menggelar sebuah festival akbar yang akan berlangsung mulai tanggal 16 sampai 24 Februari ini. Menurut rencana, festival akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

”Ini akan berbeda sekali dengan tahun sebelumnya, karena bernuansa festival yang lebih menonjolkan seni dan budaya. Tiap hari full acara. Nuansa dan ikon China akan terasa sekali,” ujar Gito Sugiarto, General Manager PT JIExpo.

Festival Cap Go Meh akan diselenggarakan untuk kedua kalinya setelah diselenggarakan dengan sukses tahun lalu. Pada penyelenggaraan yang lalu, event ini banyak mengundang minat pengunjung dan berhasil membukukan nilai transaksi lumayan besar. Sedangkan untuk kali ini, bedanya, Festival Cap Go Meh 2008 tidak hanya diarahkan ke segi perdagangan saja tetapi juga menonjolkan unsur akulturasi budaya Tionghoa-Indonesia.

Mendukung VIY 2008

11.jpgUntuk mengulang kesuksesan ini, PT JIExpo sudah menyiapkan beberapa program acara. Selain atraksi liong, diselenggarakan pula konser musik, seminar Feng Shui, lomba sempoa, lomba lampion, lomba karoke lagu Mandarin, festival makanan dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula acara yang ditujukan khusus untuk anak-anak, seperti lomba fashion, menggambar, dan mewarnai.

Padatnya program acara yang telah direncanakan tentu membutuhkan venue yang luas dan representatif sehingga mampu meng-cover seluruh rangkaian aktivitas. Pihak manajemen telah mempersiapkan Hall A, C, D sehingga bisa menampung ribuan pengunjung yang ingin menikmati nuansa Negeri Tirai Bambu di Arena PRJ.

Diselenggarakannya Festival Cap Go Meh 2008 ini juga merupakan bentuk dukungan PT JIExpo kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI yang tahun ini telah mencanangkan Tahun Kunjungan Wisata atau Visit Indonesia Year (VIY) 2008. ”Bentuk support pemerintah adalah dengan diberikannya fasilitas oleh pemerintah dan sebagai host-nya dari Budpar, karena ini terkait dengan segi budayanya,” kata Gito di Gedung Marketing Gambir Expo, PT JIExpo.

Dalam salah satu acara nanti akan berlangsung event perpaduan akulturasi antara budaya Tionghoa dan Indonesia, seperti Reog Ponorogo dipadukan dengan lakon Sun Go Kong dan teman-teman, serta barongsai liong. Kesenian berbeda etnis ini akan berunjuk gigi bersama dalam karnaval. Selain itu, untuk kulinernya ada food festival, salah satunya adalah menu masakan lontong Cap Go Meh.

Satu lagi acara yang tak kalah menarik juga dipersembahkan bagi yang menggeluti kesenian barongsai atau tarian singa. PT JIExpo menyelenggarakan kompetisi barongsai tingkat nasional untuk memperebutkan piala dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kompetisi ini merupakan kesempatan bagi para praktisi kesenian Tionghoa untuk lebih mengasah kualitas dan memamerkan eksistensinya secara nasional. Dengan demikian, barongsai yang memiliki sejarah ribuan tahun tetap bisa dilestarikan.

Gito berharap pesan-pesan moral dalam festival budaya ini bisa tersampaikan dengan baik. Sebab, salah satu tujuan terpenting dari penyelenggaraan festival ini adalah keinginan untuk melestarikan seni budaya Tionghoa-Indonesia, turut menyukseskan VIY 2008 serta memberikan konstribusi untuk memperkaya khasanah budaya Indonesia pada umumnya.

Lebih lanjut Gito menguraikan, bahwa momentum Imlek ini juga dimaksudkan sebagai event yang akan menjadi ikon setiap tahunnya di PT JIExpo, yang berupa festival akulturasi budaya Tionghoa-Indonesia. ”Jika hanya mengambil sisi perdagangannya mungkin akan menjenuhkan pengunjung. Karena di berbagai mall sudah banyak yang mengadakan hal serupa yaitu berdagang,” demikian alasan Gito.

Mengulang sukses

Menilik hasilnya, Festival Cap Go Meh 2007 memang termasuk sukses. Angka pengunjung mencapai 14.051 orang dengan jumlah transaksi sebesar Rp 1,8 miliar dalam tempo lima hari. Untuk festival di tahun 2008, pihak manajemen mematok 500 peserta dari seluruh Jakarta yang mayoritas datang dari kampung Cina, Kota Wisata.

“Selama sembilan hari kita menargetkan transaksi bisnis sekitar Rp 3 miliar, atau meningkat 100 persen dari tahun 2007. Dulu target transaksi sekitar Rp 1,8 miliar diperoleh selama lima hari. Karena Cap Go Meh tahun 2008 ini berlangsung selama sembilan hari, maka target kami adalah Rp 3 miliar,” jelas Gito.

Menurut Gito target ini akan bisa terealisasi karena festival kali ini juga menghadirkan sektor otomotif dan furniture. Selain itu, festival edisi 2008 ini juga diramaikan oleh produk oriental, craft, fashion, perbankan, telekomunikasi, elektronik, peralatan rumah tangga, obat-obatan, serta multi produk lainnya. Pengunjung pun tidak perlu risau untuk mengajak keluarganya berbondong-bondong menikmati suasana Oriental sambil berbelanja, karena festival ini tidak dipungut biaya masuk.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai aneka nuansa budaya Tionghoa atau turut serta merayakan tahun baru Imlek, tak perlu ragu untuk mengunjungi Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Gong Xi Fat Cai! []TIKA, FATKHURROHIM


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: