Oleh: fatkhurrohim | Juli 12, 2008

Arin: “Trauma Jadi Stand Guide”

Tidak sedikit tudingan miring yang dituduhkan pada tiap individunya.

Layaknya wanita-wanita lain yang berprofesi sebagai stand guide, bentuk fisik dan garis wajah yang ayu sudah dapat melukiskan aura kecantikan tersendiri bagi Ega. Berincang-bincang mengenai pengalaman selama menjadi stand guide dengan pemilik nama singkat ini, terasa sangat menyenangkan. Sama halnya menyenangkan ketika dia memutuskan untuk memilih profesi stand guide sebagai aktivitasnya di kala cuti dari bangku kuliah.

Ketertarikan Ega akan profesi ini, karena jam kerjanya yang tidak terikat seperti jam kerja orang kantoran. Gadis yang selalu menjaga perawatan kulitnya ini, sepakat bahwa untuk menjadi seorang stand guide harus berpenampilan cantik, seksi dan pintar. Memang selain syarat tersebut, ada yang lebih penting, yaitu lebih bissa menjual. Ketika ditanya soal image atas konstruksi cantik dan seksi yang melekat pada tiap stand guide, dengan senyum kecilnya yang manis Ega menjawab, enggak masalah.

Justru bukankah penampilan seorang stand guide sengaja di konstruksi untuk citra yang seperti itu. Toh, enggak selamanya setiap menjadi stand guide harus yang berpenampilan cantik dengan kostum yang seksi. “Kalau menurut saya sih tergantung eventnya, apakah harus berpenampilan seksi atau tidak. Mungkin kalau untuk produk otomotif dan elektronik biasanya sih iya. Tapi kalau untuk event yang bertema sport kan enggak harus seksi,” jelas Ega, Walau diakui olehnya image cantik dan seksi ini terkadang mengakibatkan, perlakuan yang tidak menyenangkan hatinya. “Kebanyakan dari calon konsumen sih cuma iseng saja, yah seperti menggoda, ngerayu, minta nomer hanphone. Tapi itu semua sih saya tanggapin sebagai hal yang biasa, dan memang udah resiko jadi seorang stand guide,” Ega, tersenyum.

Gadis yang santun dan berparas cantik ini, selama 4 tahun menjadi stand guide, mengakui memang ada beberapa klasifikaasinya, seperti penjualan, dan promosi. Dan dari beberapa klasifikasi tersebut, Ega lebih cenderung mengambil di bidang penjualan. Ega tertarik dibidang penjualan karena mengaku sering mendapat bonus jika melampui target yang diberikan oleh perusahaan. “Kalau target dan bonus yang diberikan dari tiap perusahaan sih berbeda-beda, standarnya sih sekitar 10 persen. Dan biasanya target yang diberikan, itu dibagi lagi dalam satu tim kerja,” terang Ega, yang paling sebel dicuekin sama konsumen.

Lajang yang miliki rambut pendek dan bercat merah ini, mengaku telah menjadi stand guide langganan untuk beberapa event seperti produk rokok, otomotif, elektronik dan minuman kebugaran, sehingga dia sangat hafal dengan beberapa fee yang akan diterima ketika akan menerima job. Ega mencontohkan fee untuk event seperti produk makanan dan minuman antara Rp. 100.000 – 200.000, kalau untuk produk otomotif dan elektronik antara Rp. 300.000 – 500.000 untuk per shiftnya. “Kalau fee terakhir yang paling besar saya terima adalah untuk event otomotif dan elektronik, yakni sebesar Rp. 500.000,” Ujar Ega, yang selalu mendapat job berdasarkan referensi dari sessama teman sand guide. ((Fatkhurrohim)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: