Oleh: fatkhurrohim | Juli 12, 2008

Ega: “Lebih Bisa Menjual”

Justru bukankah penampilan seorang stand guide sengaja di konstruksi untuk citra yang seperti itu.

Memiliki paras yang ayu, dan selalu berpenampilan seksi dalam menjalankan profesi sebagai Stand Guide ternyata membawa dampak yang tidak nyaman. Citra seksi yang melekat pada seorang Stand Guide memang harus dipertanyakan eksistensinya. Justru dari citra ini, tidak sedikit tudingan miring yang dituduhkan pada tiap individunya. Padahal, jika mau ditilik lebih dalam lagi dari profesi ini, sebenarnya apa yang ingin di jual dari jasa ini. Produknya ataukah “orangnya”?

Cibiran kritis ini, mengalir dari seorang Stand Guide yang berkeinginan sudah selayaknya mengembalikan khitoh Stand Guide pada jalur yang mengutamakan tingkat kecerdasan sebagai bentuk kemampuan untuk menjual suatu produk. Bukan bersembunyi di balik balutan busana seksi yang kurang nyaman untuk dijadikan alat jualan. Sebut saja Arin, lajang dengan tinggi antara 170 CM, yang sama sekali tidak setuju, kalau konstruksi citra cantik dan seksi dijadikan sebagai alat dagangan.

Bagi alumnus Trisakti D3 Manajemen Transportasi, meski fisik sebagai syarat utama dibandingkan dengan tingkat pendidikan, bukan berarti fisik yang menjadi objek eksploitasi atas produk. Kalau ini yang dikedepankan, cewek yang senang dengan penampilan tomboy ini yakin, bahwa kostum yang seksi bissa membuat rasa tidak nyaman dalam menjalankan tugasnya. Bahkan dikhawatirkan dan akan mengundang datangnya godaan dari lawan jenis, seperti cara memandang yang berlebihan, hingga dijanjikan suatu kerjaan tanpa melalui proses seleksi yang lazim.

Ketika pertama kali menerjuni profesi Stand Guide, Arin yang saat itu berusia 18 tahun dan masih SMU, pada mulanya memang berorientaasi mencari uang tambahan. Maklum, standar fee untuk seorang Stand Guide saat itu besar, yakni Rp. 150.000 per shift. Namun setelah lulus dari bangku sekolah dan melanjutkan ke tingkat univesitas, orientasi materi mulai ditinggalkannya.

Cewek berdarah minang yang saat ini berusia 23 tahun lebih selektif dalam memilih waktu dan tema suatu event. Hal ini terjadi, karena sering mendapat pengalaman buruk selama menjadi Stand Guide. “Kalau dibandingkan antara pengalaman senang dan buruknya selama menjadi Stand Guide, saya rasakan pengalaman buruknya lebih banyak. Saya hanya merasa enjoy, jika sudah datang waktunya untuk menerima bayaran. Selebihnya saya belum bisa merasa menikmati,” Terang Arin.

Lajang yang gemar berpakaian cassual dan memiliki profesi tetap di salah satu bank suasta ini mengaku, pernah menerima fee tertinggi Rp. 250.000 per shift dari event untuk beberapa produk seperti otomotif, minuman kemasan, unilever serta rokok. Dan selama 4 tahun menjalani profesi sebagai Stand Guide, Arin hanya mau menerima job sebagai Stand Guide pada saat liburan dan weekend saja. (Fatkhurrohim)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: