Oleh: fatkhurrohim | Oktober 11, 2008

Jakarta International Bakery Expo

Empuknya Industri Bakery Indonesia

Menjelang hari raya umat muslim dan kristiani, yakni lebaran dan natal, merupakan musim panen tahunan bagi kalangan pengusaha bakery Indonesia. Meski menjelang hari raya tersebut, harga sembilan bahan pokok makanan dan Bahan Bakar Minyak meningkat tajam. Akan tetapi, kenaikan tersebut sama sekali tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pangsa pasar bakery Indonesia. Justru, hal ini, ditengarai akan menjadi musim panennya para pengusaha bakery. Sebab menjelang hari raya tersebut, semua masyarakat membutuhkan roti sebagai penganan paling tepat dalam menjamu tamunya.

Ditemui saat press converence exhibition Jakarta International Bakery Expo (JIBEX), tanggal 19 – 23 Agustus, di Jakarta Internasional Expo, Thomas Dharmawan, Selaku Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI) mengatakan, bahwa bulan Ramadhan, lebaran, dan natal, biasanya kebutuhan pangan akan meningkat mencapai 20 – 25 persen, dibanding bulan-bulan sebelumnya. Grafik peningkatan ini, tidak terlepas dari permintaan pasar akan roti.

Ketua GAPPMI ini, berpendapat, bahwa industri bakery Indonesia mengalami banyak perubahan yang positif. Thomas melihat, harga pangan pada tahun ini mulai melandai. Selain itu, ia pun melihat bahwa ada beberapa inovasi-inovasi dalam industri ini. Thomas mencontohkan, inovasi tersebut ada pada produk substitusi seperti kasava, yang dicampur dengan tepung-tepungan. “Ini, merupakan pertanda baik, dimana telah terdapat inovasi baru di dunia tepung. Tepung sekarang sudah bisa dicampurkan dengan bahan lain, tanpa mengurangi kualitas rasa,” urai Thomas.

Sementara itu, Daud D. Salim selaku presiden direktur Kristamedia Pratama, sekaligus penyelenggara event jibex, di Hall D1, D2, JIExpo, Kemayoran, mengatakan, akan kegundahan hatinya terkait dengan industri Bakery Indonesia yang mulai di kepung oleh produk-produk dari luar negeri.

Daud khawatir, produk bakery Indonesia saat ini mulai dibanjiri oleh produk-produk roti dari luar negeri seperti Usa, dan Asia. Mereka melihat, kata Daud, bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar yang besar dan empuk untuk industri bakery. Oleh karena itu, Kristamedia dan Asosiasi Bakery Indonesia mengadakan pameran Jibex. “Dengan adanya pameran bakery ini, kita ingin mengangkat wacana, bahwa profesi tukang roti itu hampir sama dengan designer busana. Pameran ini bersamaan dengan interfood untuk yang ke 8 kalinya, dan yang pertama kalinya bagi industri bakeri.

Inovasi Baru Industri Roti

Sementara itu, Ramelan Hidayat selaku Ketua Asosiasi Bakeri Indonesia (ABI) mengatakan, menghadapi situasi awal tahun 2008 lalu, seperti harga sembako, dan BBM yang terus meningkat, hingga krisis energi, ternyata turut mempengaruhi industri roti tranah air. Akan tetapi, para pelaku industri roti, tidak khawatir akan hal tersebut.

Jusrtu, para pengusaha roti, telah melakukan beberapa hal nyata dalam mengatasi krisis. Buktinya, ABI, dan pengusaha melakukan Inovasi dibidang terigu dan tepung-tepungan sebagai bahan utama pembuat roti. Hasil dari beberapa inovasi ini, terbukti mampu mengatasi masalah perekonomian saat itu.

Thomas dari GAPPMI menambahkan, sebenarnya industri pangan Indonesia itu pertumbuhannya terus meningkat. Buktinya, Indonesia dalam satu tahun rata-rata mengkonsumsi 1000 triliun rupiah untuk makan. Dan hanya 350 triliun, diolah oleh industri. Sisanya dijual, seperti di pasar dan ke restoran dan catering. “Angka-angka tersebut selalu tumbuh, rata-rata setiap tahunnya mencapai 10 persen,” ungkap Thomas.

Kemudian, lanjut Thomas, saat ini pemerintah membiayai suatu penelitian yang dikerjakan oleh Badan Pengembangan Produk Teknologi (BPPT) dan Institue Teknologi Bogor (IPB) guna menghasilkan suatu produk pangan yang yang sifatnya menyemai dari produk terigu. Penelitian yang dilakukan oleh BPPT dan IPB ini, bernama riset unggulan nasional (RUN).

Dalam penelitian tersebut, dihasilkan produk dengan nama modified cassava flor (tepung kasava yang dimodifikasi). Kini, hasil dari penelitian itu telah dipergunakan untuk membuat mie dan roti. “Research ini dimaksudkan untuk mengurangi rasa ketergantungan industri roti Indonesia terhadap gandum, atau terigu. Dan pemerintah sendiri, ingin mendeversifikasi pangan,” urai Thomas.

Sementara itu, Yahya, penasihat ABI mengatakan, JIBEX ini bisa menjadi tolok ukur dalam hal perkembangan teknologi, dan ilmu, yang sedang berkembang di industri roti. Pasalnya, event ini merupakan tempat berkumpulnya para pengusaha bakery dari berbagai negara dan daerah. Dan yang tidak kalah penting, Jibex yang pertama kali ini, menampilkan kreasi produk unggulan dari para pengusaha roti lokal.

Jika event ini terus terjaga dan annual, menrut Yahya, akan menjadi shock therapi yang cukup efisien dalam membendung laju globalisasi usaha roti asing yang akan menjajah pangsa pasar lokal. (Farkhurrohim)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: